arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

“Pak, permisi.” Suara lirih ditambah ketukan kecil di pintu jeruji besi memanggil sipir yang masih berjaga.

“Kamu tidak tidur juga?” tanya sang sipir dengan nada kesal. Itu adalah Gunawan yang turun dari ranjangnya untuk kembali berkomunikasi dengan si penjaga penjara. Sementara Rangga terlihat sudah tidur dengan lelap sehingga tidak menyadari kepergian Gunawan dari pembaringan.

“Gak bisa,” jawab Gunawan singkat.

“Tidurlah.” Sang sipir mengisyaratkan dengan wajahnya, menunjuk kembali ranjang melalui tatapan mata dan gerakan kepala.

“Bapak tahu kan, satu orang lagi yang seharusnya ada di kamar ini?”

Mendengar pertanyaan itu, sang sipir memastikan isi kamar dengan mengintip melalui celah yang ada di pintu besi dan menyadari kekosongan di salah satu ranjang yang seharusnya berisi.

“Dia dari tadi belum kembali.” Tanpa pikir panjang, sipir mulai beranjak pergi dari penjagaannya tapi dihentikan Rangga. “Tunggu dulu.”

“Biar saya yang mencarinya.”

“Kamu akan menggunakan kesempatan ini untuk keburukanmu?” Sipir terdengar marah.

Gunawan menahannya dengan meletakkan jari telunjuk kanan di depan mulutnya. “Jangan terlalu nyaring.” Dia yang berdiri di balik pintu, memandang ke belakang memastikan Rangga yang tertidur tidak terganggu.

“Percayakan hal ini kepada saya, meski sekali saja.” Sang sipir diam, berpikir panjang.

“Baiklah.” Pintu penjara pun dibuka. Gunawan keluar dan berpamitan dengan menundukkan kepala ke arah sang sipir sebelum pergi.


Setelah menjelajah isi rumah tahanan, Gunawan akhirnya menemukan Amin di ruang pencucian pakaian. Dia hanya berkacak pinggang memandang baju yang berputar di dalam sebuah mesin cuci di samping keranjang penuh baju yang terlihat telah dicuci.

“Kamu di sini rupanya. Aku sempat mencarimu ke kantin juga.”

“Hai, Gunawan,” sapa Amin sambil tersenyum kecil. “Belum terbiasa menggunakan mesin cuci, jadi lambat dalam memahaminya. Ditambah tahanan lain membuatku harus membersihkan pakaian mereka juga.”

“Ada apa?” Amin menanyakan maksud kedatangan Gunawan.

“Aku berniat untuk menemui besok, tapi lebih baik bicara sekarang saja.”

“Sebelumnya, apa maksudmu membersihkan pakaian tahanan lain?” Gunawan tersadar dengan kalimat yang diucapkan Amin sebelumnya.

“Ah,” Amin memandang keranjang penuh pakaian tadi, “ini bukan apa-apa.” Dia kembali tersenyum. “Aku perlu belajar memakai mesin cuci juga.”

“Amin, kamu sadar itu bullying kan? Perlu kulaporkan kepada petugas di sini?” ucap Gunawan dengan wajah serius.

“Tidak usah,” jawab Amin singkat lagi tegas. “Beritahukan saja maksudmu datang ke sini karena setelah yang di dalam sana, ada beberapa lagi–hanya sedikit–yang perlu dikerjakan lagi sebelum semuanya selesai.”

“Beri aku pencerahan.”

“Apa maksudmu?” Amin bertanya kebingungan.

“Aku kagum dengan apa yang kau sampai ketika pertemuan kita, kamu yang memasuki ruangan kami. Meski engkau menujukannya kepada temanmu Rangga, aku sangat menyukai itu dan ingin mendengarkannya lagi.”

“Kenapa kamu memintanya kepadaku? Kamu bisa temui ustadz yang menjaga musala atau orang lain yang menurutmu memiliki pemahaman setara.”

“Menurutku, kamulah orangnya.”

“Kamu terlalu berlebihan.” Amin tertawa kecil.

“Aku mengetahui perbuatanku salah, dan tidak mau lagi melakukannya. Hanya saja, aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya.”

“Duduklah.” Amin menyuruh Gunawan untuk duduk di bangku panjang yang tersedia di ruangan itu. Gunawan pun duduk dengan penuh hormat serta ramah. “Tidak kusangka aku akan menemukan teman baru di dalam sini, tapi begitulah ketentuan Tuhan dan itulah yang terbaik. Sudah seharusnya aku menerimanya.”

“Dalam pemahamanku, konsep dari tempat kita menetap sekarang, dapat kita ambil dari ruangan kita berada saat ini.”

“Tempat pencucian?”

“Betul. Menurutmu, kenapa seharusnya seperti itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Pakaian sebanyak yang kau lihat,” Amin menunjuk keranjang penuh pakaian itu lagi, “mereka memasuki ruangan ini dalam keadaan kotor.”

“Penuh noda, lusuh, tidak enak dipandang apalagi dicium sehingga banyak orang memilih untuk menjauh darinya.”

“Lantas, apa yang terjadi setelah semua pakaian ini dimasukkan ke dalam mesin itu?” tanya Amin memandang mesin cuci kemudian Gunawan. “Bersih bukan?” Gunawan menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Yang tadinya penuh noda, noda itu hilang bahkan tanpa bekas sedikit pun. Yang tadinya lusuh, setidaknya lebih rapi dan jika disetrika akan semakin baik lagi. Yang tadinya tidak enak dipandang maupun dicium, aku sendiri ingin berlama-lama memeluk pakaian ini karena aroma dan warnanya.”

“Begitulah kehidupan para tahanan di dalam penjara, termasuk kita. Banyak yang masuk ke sini untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah mereka lakukan, meski hukuman yang dijatuhkan oleh pihak berwenang berbeda-beda dan mungkin tidak banyak yang sama. Masuk tidak serentak, begitu pula dibebaskan.”

“Sekarang, tempat ini memberikan kesempatan kepada kita untuk berpikir sehingga dapat menemukan jalan kembali dalam mendekat kepada Tuhan. Mereka yang mengambil kesempatan tersebut, aku percaya nasib mereka seperti pakaian-pakaian ini.”

Amin menghela napas sejenak. “Ketakutan Rangga akan tidak diterima dalam pekerjaan adalah hal yang wajar, karena pada kenyataannya, memang seperti itulah masyarakat memandang orang-orang yang keluar dari sini. Padahal, jika mereka memperhatikan dengan serius, aku yakin ada sikap yang berubah ke arah kebaikan dari orang-orang yang keluar dari sini dan mereka akan mengerjakan segala sesuatu yang ditugaskan kepada mereka dengan baik lagi memperhatikan setiap tindakan mereka.”

“Mereka telah mengetahui resiko jika melakukan kesalahan, dan bisa saja berpikir lebih panjang sebelum sebelum untuk melakukannya lagi.”

“Aku harap kehidupan kita di dalam penjara sekarang, memberi pelajaran yang begitu banyak sehingga ketika keluar, kita bagaikan menjadi diri yang baru.”

Mesin cuci berhenti berputar pertanda waktu yang ditentukan telah selesai. Amin berdiri untuk membuka pintu mesin cuci dan mengambil pakaian dari dalam sana dan memasukkan bersama ke keranjang. “Mesin ini canggih juga. Pakaian tidak terlalu basah ketika dikeluarkan jadi semakin cepat kering. Andai malam ini pun dijemur di sini, besok pagi sepertinya sudah kering.” Ucapan Amin terdengar murni dari kekagumannya.

“Aku perlu banyak belajar denganmu.” Gunawan turut berdiri. “Selain itu, aku tidak mau Ranga tahu hal ini karena takut menyinggung perasaannya, maupun orang lain.”

“Aku mungkin akan berada di sini setiap malam karena rupanya pekerjaan ini menyenangkan,” ucap Amin sambil merenggangkan punggung sampai terdengar suara seperti retakan. “Kamu juga bisa menemuiku di musala setelah kewajiban selesai dilaksanakan.”

“Biarkan aku membantu. Sipir yang menjaga lorong depan ruangan kita akan mencari tidak lama lagi.” Amin mengangguk, mengizinkan Gunawan untuk membantu. Sementata Amin menyelesaikan cucian terakhir, Gunawan meletakkan pakaian yang telah dicuci di jemuran yang berada di dalam ruangan itu.

Setelah selesai, Amin terlihat sangat lega dan dia pun pergi kembali ke ruangannya bersama Gunawan. Setibanya di depan, sipir menghentikan sejenak untuk menyapa. “Kalian dari ruangan pencucian bukan?” Sambil terkejut dan tidak sempat menjawab, “Terima kasih atas kerja keras kalian.” Sipir membukakan pintu besi secara lembut dan mengisyaratkan dengan tangan seakan mempersilakan mereka masuk.

Komentar