arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

Tarikan napas berat serta langkah kaki yang lemah menjadi awal dari pembaruan karir seorang Mira di tempat berbeda. Sambil berjalan memandangi kantor baru, beberapa orang menatap kedatangannya.

Sesampainya di tengah lobi, seseorang menunggu Mira dan menyambutnya. “Selamat pagi, selamat datang. Perkenalkan, saya Pradana, kepala kepolisian di sini.”

“Saya baru saja ingin menemui Anda.” Mira menunduk. “Saya Mira. Selamat pagi, Pak Kombes. Terima kasih atas dukungan Bapak.”

“Riyadi menitipkan pesan, ‘Kerja baik-baik di tempat barumu,’ katanya.”

Mira tertawa kecil sambil menunduk. “Beliau menyampaikan itu?”

“Saya tidak tahu bagaimana intonasi dan konotasi beliau, tapi saya rasa beliau bermaksud baik sebagaimana yang saya kenal.”

“Kenapa memangnya?” tanya Pradana agak kebingungan.

Mira pun tersentak. “Bukan apa-apa. Mohon maaf atas perkataan saya barusan.”

“Hanya saja, begitulah Pak Kombespol Riyadi. Pesan yang Bapak sampaikan tadi, saya sangat percaya bahwa itu memang dari beliau.”

Mira mengangguk sekali tanda berpamitan kepada Kombespol Pradana dan berjalan untuk menemui Satuan Reserse Narkoba di sana sendiri. Kombespol Pradana hanya bisa heran dan kembali ke ruangannya.

Sambil menoleh secara perlahan ke seluruh sisi, di salah satu sudut ada beberapa polisi berkumpul di sebuah meja dengan berkas di atasnya, menunjuk Mira yang sedang berjalan dan melambai untuk memanggilnya.

“Kamu pasti Mira,” sapa salah satu dari mereka yang laki-laki. Mira menjawabnya dengan anggukan kemudian duduk di sisi mereka.

“Kami adalah bagian dari satuan reserse narkoba di sini, dan sepertinya kamu akan bergabung di tim kami. Jadi, kami ucapkan selamat datang.” Seorang polisi wanita mengulurkan tangannya. Mira kebingungan dengan tindakan tersebut dan hanya menyambutnya dengan canggung.

“Sebelumnya, kami telah mendengar bagaimana kemampuanmu di bidang yang kita geluti bersama. Mereka memujimu, di usia yang muda dan berada di kepolisian tidak begitu lama, sudah banyak kasus yang kamu usut dan tuntaskan.”

“Namun, ada satu hal yang membuat kami penasaran dan semoga pertanyaan yang akan kami sampaikan tidak mengganggu. Bagaimana metode kalian dalam memecahkan kasus perdagangan narkoba?”

“Kamu tidak harus menjawabnya jika hal tersebut adalah rahasia dan tidak boleh diberitahukan kepada kami.”

Mira hanya tersenyum kecil. “Sampai sebelum aku ditempatkan di sini, kami biasanya mendapatkan laporan bahwa adanya perdagangan yang akan terjadi di tempat yang telah ditentukan, atau hasil dari penyelidikan yang kami lakukan sebelumnya dengan target sama.”

“Jadi sampai saat ini, kalian hanya menangkap yang berdagang?” Mereka terdengar tidak percaya dengan apa yang Mira sampaikan. “Bagaimana dengan bandarnya?”

“Setahuku kalau tidak salah ingat, anggota lain dari timku sedang mengerjakan itu dan lupa dia menceritakan sudah sampai mana. Intinya, hal itu sudah dilakukan sehingga hanya menunggu saat yang tepat.”

“Aku sendiri karena sudah di sini, tidak akan mengetahui bagaimana kebijakan Pak Kombespol Riyadi dalam menghadapi kasus yang sedang berjalan. Aku juga tidak akan mau menanyakannya secara langsung meski tetap memiliki kontak dengannya karena bagiku, itu tidak sopan dan takutnya mengganggu proses penyelidikan yang sedang berjalan. Aku tetap mengharapkan yang terbaik bagi mereka dan semoga dapat tuntas dengan segera.”

“Kami juga mendapatkan desas-desus bahwa kamu sebenarnya dimutasi sehingga berada di sini?”

“Hey, kalian ini. Kata siapa itu?” Polisi wanita itu membela. “Jangan pedulikan itu, Mira.”

“Tenang saja. Apapun perkataan buruk yang kalian dengar tentangku sebelumnya, aku akan buktikan bahwa itu salah total dengan berusaha membantu kalian di sini dengan segenap kemampuanku. Jadi, mohon kerjasamanya.”

Mira melihat berkas yang terletak di atas meja dan memandangnya. “Ada yang bisa kubantu?” Mendengar penawaran tersebut, mereka terlihat tertarik dan bersiap untuk menyampaikan hasil penyelidikan mereka sementara.

“Mira.” Sampai panggilan dari Pradana menghentikan. “Ke ruangan saya sebentar.”

Tidak hanya Mira, mereka pun turut bingung seiring Mira berjalan kemudian memasuki ruangan Pradana. “Ada apa, Pak?”

“Riyadi baru saja menelepon untuk menyampaikan hal-hal lain dan aku akan menceritakannya kepadamu.”

“Apa yang kamu lakukan selama di sana, beliau menyampaikannya kepadaku dan hal itu bisa saja tidak kami maafkan.”

Mira menunduk sambil mengepalkan tangan. “Berita itu sudah tersebar bukan?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Mereka yang sepertinya sudah membentuk tim baru saja memanggilku dan mereka mengaku telah mendengar hal ini. Aku tahu itu kesalahan, tapi aku berharap juga dengan bantuan Bapak untuk menutupi hal tersebut.”

“Aku ingin menjadikan ini sebagai kesempatan untuk membentuk diriku yang lebih baik. Tanpa kusadari, tindakan sekecil itu berdampak besar dalam hidupku dan berpengaruh dalam segala segi yang bisa Bapak pikirkan. Aku telah mengkhianati banyak orang dan aku tidak mau melakukannya lagi.”

“Aku tidak tahu bagaimana kabar itu tersebar sedangkan hal itu berada di luar dari batas kemampuan dan kewenanganku.”

“Ada hal lain yang beliau sampaikan?”

“Dia memberi saran untuk tidak ikut turun ke lapangan sementara waktu, setidaknya sampai semua pembicaraan mereda. Kamu hanya diperbolehkan untuk melakukan penyelidikan di dalam kantor selama itu. Aku akan memberitahukan jika waktu itu tiba, dan ini demi kebaikanmu.”

“Aku kurang mengerti maksudnya, tapi aku menduga bahwa kabar tentang kejadian itu lebih cepat beredar di jalanan dibanding di dalam kantor seperti kita. Itu hanya dugaan, karena sekali lagi, aku tidak tahu tepatnya, tapi jika benar, setidaknya pertanyaanmu terjawab dan jawabanku terbukti pula bahwa hal tersebut di luar kemampuanku.”

Mira kembali ke tempat dia berbicara sebelumnya. “Kenapa barusan?” tanya salah satu dari mereka penasaran.

“Cuman urusan perpindahan yang masih perlu diselesaikan. Seharusnya udah cukup tadi, kecuali ternyata masih ada lagi.”

“Sampai mana aku tadi?” Mira bertanya untuk memulai topik kembali, sebelum menyadari berkas yang berada di atas meja tadi telah mereka rapikan sehingga memunculkan senyuman sinis di wajah Mira.

“Jangan bilang sebenarnya itu bukan berkas tentang penyelidikan narkoba yang sedang berlangsung, tapi berkas data tentang diriku.”

“Ada satu pertanyaan yang mengganjal di pikiranku. Menurut pendapat kalian, apakah pabrik pembuatan obat-obatan terlarang, bisa dikatakan bandar narkoba?”

“Jika kalian belum percaya sepenuhnya kepada diriku, maka itu adalah hal wajar. Untuk membuat kalian semakin yakin, maka aku akan menceritakan apa yang kutahu dan ingat tentang penyelidikan kasus di tempat kami yang masih berlangsung.”

“Ya, aku akan membagikan sedikit dari hasil penyelidikan yang kami lakukan dan siapa tahu ada kaitannya dengan apa yang kalian selidiki juga.”

“Kalian begitu terkejut ketika kami hanya menargetkan orang-orang yang memperdagangkannya? Dari sanalah kami mulai membuat jalur sehingga sudah ada tanda-tanda, bukan hanya bandarnya saja yang menjadi dalang di balik semua kasus itu, namun juga pabrik yang memproduksi semua obat-obatan terlarang. Aku tidak tahu sudah sampai mana mereka menyelidikinya, dan terus berharap apa yang mereka lakukan lancar terus.”

Komentar