Kasus Utama

"Sampai mana penyelidikan kalian?" Kedatangan Kombespol Riyadi mengagetkan tim dari satuan reserse narkoba yang menyatukan penyelidikan mereka di papan tulis. Sebutan tim memang tidak begitu cocok karena saat itu hanya dua orang yang ada di sana, Brigadir Polisi Satu Dewi dan Brigadir Polisi Dua Wijaya.

"Pak Kombes," sambut mereka dengan gemetar karena masih ada sisa dari rasa terkejut barusan.

"Pak Riyadi juga gak papa kok."

"Mohon maaf, Pak. Mendengarnya saja terasa canggung," ucap Briptu Dewi.

"Biasakan diri kalian." Riyadi kemudian menunjuk papan tulis itu. "Siapa yang akan menjelaskan?" tanyanya sambil duduk.

"Kami sebenarnya memang berniat untuk menyampaikan hasil penyelidikan kami kepada Bapak sebelumnya, dan telah menunjuk Mira untuk melakukannya."

"Jangan sebut namanya lagi untuk sementara."

"Mohon maaf, Pak." Dewi menunduk. "Tapi, dia sudah mengetahui sedikit tentang ini."

"Untuk itu, tidak apa-apa. Anggap saja dia membantu kalian sebagaimana biasa, hanya jangan sebut namanya lagi. Lanjutkan karena aku sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan kalian."

"Kamu saja yang lakukan." Dewi dan Wijaya saling menunjuk sampai akhirnya salah satu maju dengan ditentukan oleh hasil suit bagi yang kalah. Setelah beberapa kali seri, Wijaya terpilih untuk menjelaskan.

"CV. Galanthus." Wijaya menunjuk tulisan yang menjadi judul di papan tulis.

"Apa itu?" tanya Riyadi langsung.

"Kita sudah menyelidiki beberapa kasus perdagangan narkoba, dan menyadari bahwa barangnya berasal dari produsen yang sama. CV. Galanthus adalah nama mereka. Herannya, bagaimana bisa orang-orang ini melakukan segala pekerjaan ini secara legal? Dari produksi sampai pemasaran, mereka juga pelakunya."

"Tunggu sebentar." Riyadi menaruh tangannya di dahi. "Itu mengingatkanku tentang sesuatu."

"Nama perusahaan itu bisa saja merupakan sebuah petunjuk. Sudahkah kalian mencarinya di kamus atau sebagainya?"

Wijaya dan Dewi bergegas mengambil ponsel mereka dan mencari arti nama tersebut di internet. "Snowdrop," ucap Dewi.

"Bunga yang dapat tumbuh di musim dingin," sahut Wijaya. Jawaban mereka yang terkumpul menjadi pelengkap satu sama lain.

"Wah, seharusnya kalian melaporkan hal ini kepadaku lebih awal." Riyadi terlihat begitu kesal. "Seharusnya juga mereka sudah berakhir sejak lama. Kenapa masih ada sekarang?"

"Gugur satu, tumbuh seribu," gumam Riyadi.

"Kalau boleh tahu, mereka itu siapa Pak?" Dewi kembali bertanya.

"Aku ingat sebuah cerita dari luar sana, tentang adanya organisasi kejahatan." Dewi dan Wijaya memandangi Riyadi dengan serius untuk mendengarkan.

"Bunga musim dingin adalah sebuah metafora yang berasal dari fakta. Sebut saja, Snowdrop, bunga itu bertahan melalui musim dingin dan dapat mekar pula di musim selanjutnya. Sebaiknya, hal itu diartikan sebagai orang-orang yang telah melalui kesulitan dan berjaya setelahnya."

"Tapi organisasi kejahatan ini, mereka membaliknya. Mereka mengatasnamakan bunga seindah itu sebagai topeng di balik pembalasan dendam mereka. Anggota-anggota dari organisasi kejahatan ini, kebanyakan tergiur oleh tipu daya mereka dengan dijanjikan bayaran besar dalam setiap tindakan yang dilakukan."

"Perdagangan obat-obatan terlarang adalah salah satu usaha buruk mereka dalam menghasilkan uang, dan selama mereka beraksi, segala tindakan hanya dilakukan secara online. Sekeras apapun usaha kepolisian untuk menyelidiki kasus-kasus tersebut, kebanyakan darinya berakhir di jalan buntu. Hal itu menyusahkan untuk dilacak dan menjadi alasan kenapa hanya orang-orang yang memperdagangkannya yang ditangkap."

"Saat itu, mereka melakukan kesalahan besar. Mereka terlalu percaya diri sampai mengungkapkan semua identitas di situs web yang dimiliki dan dikelola oleh mereka sendiri."

"Sekarang, jika bunga itu memang gugur satu tumbuh seribu, mereka bisa saja telah belajar dari kesalahan orang-orang terdahulu yang memiliki motif sama."

Dewi dan Wijaya saling memandang. "Apa yang Bapak ceritakan tidak jauh berbeda dengan yang kami hadapi sekarang." Wijaya menjelaskan.

Riyadi menghela napas dengan berat. "Berdasarkan cerita itu, salah satu cara yang paling ampuh untuk menghentikan mereka adalah menemukan pabriknya dan menyegel tempat itu dengan segera." Dia pun memandangi Dewi dan Wijaya. "Aku harap kalian dapat melakukan itu."

"Maaf, aku terlambat." Seseorang datang dengan bergegas menuju arah mereka.

"Rian?" Dewi menyambutnya.

"Kalian melakukan ini tanpaku?" Rian terlihat terkejut dan kesal. "Kenapa kamu yang sekarang menjelaskan? Bukankah setahuku kalian menunjuk Mira sebelumnya?" Kemarahannya mulai muncul.

Wijaya mencoba menahan Rian untuk terus bicara dan memberi isyarat dengan tangan sambil memandang Riyadi yang sedang duduk.

"Mira telah berperan besar dalam sebagian banyak dari kasus-kasus ini dan karena itu pula bukankah kita akan segera menemui akhirnya?"

Dewi hanya bisa menepuk jidat dan Wijaya memalingkan badan seiring Riyadi berdiri dari kursinya. "Sebut namanya sekali lagi, akan kuusir kamu sekarang."

"Kenapa Bapak begitu marah?"

"Kamu! Kamu ada di ruang interogasi dan aku telah melihat Amin berusaha keras membela dirinya di hadapanmu. Kenapa kamu tidak menyampaikan pembelaan itu kepada Mira? Setidaknya, dia mungkin saja berpikir ulang atas tindakannya."

"Namun apa yang terjadi sekarang, Rian? Semuanya telah tersebar di luar sana. Sekarang, kalian harus benar-benar menuntaskan kasus ini dan jangan buat aku kecewa lagi."

"Jelaskan apa alasan keterlambatanmu kali ini."

"Apa yang kubawa akan melengkapi semua teka-teki itu." Rian menunjuk papan tulis.

"Ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, perdagangan narkoba lagi sebagaimana biasa. Kali ini, mereka akan melakukannya di sudut taman kota. Ini laporannya."

"Kedua, aku mendapatkan data pribadi dari pemilik CV. Galanthus yang mungkin sedang kalian bahas sekarang?"

"Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?" tanya Wijaya.

"Aku juga menyelidiki kasus ini sendiri. Aku hanya bisa berterima kasih dengan informanku yang bisa mendapatkan data sebanyak ini."

Dewi dan Wijaya terdiam memandangi Rian. "Ada apa? Bukankah aku membagikannya sekarang dengan kalian? Jika aku egois, aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri."

"Sayangnya, tim kita hanya beranggotakan tiga orang sekarang, termasuk kamu, Rian. agaimana kita akan melakukannya?" tanya Wijaya.

"Mau tidak mau, kita harus berpencar. Dua orang akan menangkap para calon narapidana ini, dan satu orang akan mendatangi alamat yang dijelaskan dalam data pemilik perusahaan ini. Aku akan menawarkan diri untuk melakukan yang kedua, namun keputusan tetap berada di tangan Bapak." Rian menatap Riyadi.

Riyadi tersenyum sinis. "Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau."

"Terima kasih, Pak. Bolehkah saya sekaligus meminta surat penggeledahan?"

"Kamu akan melakukannya sendiri? Aku tidak akan memberikannya, tapi jika kamu bersikeras, kamu tetap diperbolehkan untuk menemuinya. Cobalah, siapa tahu dia ada di saja, dan memberikan data di mana pabriknya."

Rian mengangguk, menyerahkan berkasnya kepada Dewi dan Wijaya kemudian berpamitan kepada Riyadi. Dia berjalan ke luar kantor dengan cepat.

"Dulu, kelompok penjahat semacam ini melibatkan polisi dalam pekerjaan mereka sehingga lancar sampai sekarang." Riyadi memandangi Rian yang sudah jauh. "Aku mulai curiga dengannya."

"Bapak tidak boleh berprasangka buruk seperti itu." Dewi meyakinkan Riyadi.

"Betul, selama ini Mir–dia juga menuntaskan kasus di sini dengan Baik." Wijaya menyahut.

"Alangkah baiknya kita waspada. Apalagi dia menawarkan diri seperti itu, sebenarnya dia meminta."

"Lantas, kenapa Bapak mengizinkannya?" tanya Wijaya.

"Aku ingin tahu tindakannya setelah ini." Riyadi pun berdiri dari tempat duduknya, menatap sekali lagi Dewi dan Wijaya yang telah melakukan penyelidikan di bidang narkoba selama ini.

"Terima kasih atas kerja keras kalian. Lain kali, beritahukan saja sampai mana kelanjutan kasus yang kalian selidiki, meski pergerakan hanya dirasa sedikit."