arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

“Selamat datang kembali, Amin.” Masyarakat kampung menyambut tibanya Amin di depan rumahnya, dengan dirinya yang baru keluar dari mobil. Sambil membuka pintunya sendiri, masyarakat semakin mendekat dan Amin memberi isyarat dengan kedua tangannya agar mereka menyediakan jarak.

“Kami merindukanmu.”

“Kalian terlalu berlebihan.” Amin memandang sopir mobil dari jendela kemudian mengangguk kepadanya. Mobil itu pun pergi dengan tujuan yang tidak diketahui.

Masyarakat mulai memberikan Amin beberapa hal yang kedua tangannya hampir kesusahan untuk membawa semuanya. Amin terenyuh tetapi heran dengan tindakan mereka.

“Apa yang perlu aku lakukan hari ini?” tanya Amin.

“Kamu tidak usah macam-macam dulu.”

Amin diam sejenak sambil memandang masyarakat, mencoba berfokus dengan satu pikiran. “Seingatku untuk ronda malam ini, aku kena giliran?” Sebagian besar warga hanya terdiam namun Amin melihat ada beberapa yang mengangguk. “Aku akan mencoba berhadir jika tidak ada halangan.”

“Aku permisi dulu.” Amin berpamitan kepada masyarakat. Mereka memahami hal tersebut dan satu persatu meninggalkan tempat itu.

Amin harus menaruh segala pemberian yang telah masyarakat di teras sebelum dia dapat mengambil kunci rumahnya dengan aman yang terletak secara rahasia dan membuka pintu untuk masuk.

Memasuki rumah, Amin menyalakan lampu kemudian mengambil pemberian tadi dan membawanya ke dalam untuk menaruhnya di ruang makan. Amin kembali untuk menutup pintu sebelum melihat apa saja yang mereka berikan.

Beberapa di antaranya adalah makanan, Amin yang perutnya mulai keroncongan memilih untuk memakan pemberian tersebut.

Singkat cerita, malam pun tiba dan beberapa anggota masyarakat yang mendapat giliran untuk ronda telah berkumpul di pos. Amin yang datang sedikit terlambat, mendekati pos dan mereka yang duduk di dalamnya memberi ruang agar Amin bisa masuk.

Amin langsung melihat kertas yang ditempel di dinding. “Malam ini benar-benar giliranku rupanya.” Dia pun duduk setelah melakukan hal tersebut.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Tidak sopan membicarakan itu,” potong sang lawan bicara sambil menepuk paha yang bertanya.

Amin tersenyum sambil memandang papan catur. “Kalian akan memainkannya bukan?” tanyanya.

“Kau akan main juga?”

“Tidak, aku hanya akan menonton saja.”

“Apa yang bisa kau sampaikan berkaitan dengan catur?” celetuk salah seorang. Amin terkejut sekaligus bingung mendengar perkataan tersebut. “Selama ini engkau bisa menyampaikan kebaikan dari benda-benda di sekitar.”

Amin kembali tersenyum. “Catur adalah permainan yang menarik untuk dimainkan. Tenaga lebih terkuras untuk berpikir, dan fisik hanya berperan kecil.” Mereka yang ada di sana mulai menyesuaikan posisi duduk mereka untuk fokus mendengarkan Amin.

“Kalian sambil main dong.”

“Kami harus mendengarkanmu dulu.”

Amin menghela napas sejenak. “Dalam permainan catur, pion berwarna putih berjalan lebih dahulu daripada pion berwarna hitam. Selama ini, warna putih identik dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya, warna hitam dikaitkan dengan keburukan. Maka, dalam kehidupan kita, memang kita harus menjauhi keburukan. Caranya, adalah melakukan kebaikan terlebih dahulu.”

“Ada satu hal yang sering dilakukan saat memainkan catur, tapi aku belum tahu apakah kalian menyadari hal ini. Untuk mencapai kemenangan, tidak terhitung betapa banyak bidak yang harus dikorbankan.”

“Begitulah bagaimana kita juga dalam mendekat kepada Tuhan. Memulai semua dengan kebaikan, dan melakukan segala pengorbanan yang harus kita lakukan. Untuk meraihnya, tetap berada di jalan yang lurus seperti pion dan benteng. Kebaikan datang bisa juga dari arah yang berbeda, seperti gajah, kuda, bahkan menteri. Segala yang dilakukan tadi untuk menjaga raja, simbol nama baik kita.”

“Memang dia Amin yang kita kenal.” Orang-orang yang ada di sana kagum dengan penyampaian Amin.

“Betul juga. Tadi ada yang bertanya tentang perasaanku? Aku rasa mereka bermaksud dengan keadaanku selama di dalam rumah tahanan?” Pertanyaan Amin barusan membuat suasana langsung menjadi hening.

“Aku lebih banyak bersyukur karena ditemukan dengan teman lamaku setelah sekian lama terpisah, juga mendapatkan teman baru meski hanya sebentar di sana.”

“Meski hanya sebentar? Memangnya kamu ingin lama-lama?!”

“Teman lama yang kumaksud sepertinya sedang mengalami masalah dan aku takut tidak bisa menjaganya.”

“Percayakan saja kepada pihak yang berwenang.”

“Kalian benar.”

“Ada Amin di sini rupanya.” Kedatangan Kepala Desa mengagetkan warga di pos ronda. Amin berdiri untuk menjabat tangannya dan kembali masuk.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik-baik saja kok Pak.” Amin memberi isyarat dengan menepuk lantai, meminta sang kepala desa untuk duduk di dalam ruangan. Dia hanya memilih untuk duduk di depan saja, dengan dari posisinya saja terlihat berniat untuk diam hanya sebentar. “Kabar Bapak gimana?”

“Susah tidur sih,” celetuk sang kepala desa. Beberapa warga menertawakan hal tersebut, menduga bahwa yang dia ucapkan adalah sebuah candaan.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Amin. Matanya terlihat tulus ketika menyampaikan hal tersebut.

“Oh, tidak perlu. Kamu cukup ikut serta ronda seperti ini saja, aku sudah bersyukur. Jangan menyusahkan dirimu sendiri.”

“Tujuanku ke sini sebenarnya hanya memastikan keberadaan Amin, dan dia telah ada di sini sekarang. Pengaduan kalian sebelumnya telah diperdengarkan dan dikabulkan. Aku harap kalian senang dengan itu. Silakan saja melapor lagi kepadaku jika ternyata ada hal yang tidak sesuai, maupun masalah lainnya yang harus diatasi bersama.”

“Karena tujuanku ke sini telah terpenuhi, aku akan langsung pulang. Kalian, ada baiknya sebentar lagi mulai jalan berkeliling. Selamat malam.” Sang kepala desa berpamitan dan pulang ke rumahnya.

“Pengaduan?” tanya Amin penasaran. Tidak ada sahutan dari mereka. “Ayolah, bicarakan saja.”

“Kami khawatir karena kamu tidak terlihat beberapa hari belakangan ini. Seseorang melaporkan bahwa rumahmu yang biasanya lampunya menyala saat malam, tidak bercahaya. Kami merasakan hal yang sama dan kami sudah mengenalmu, sehingga walau kami mencari di tempat-tempat yang kau sering datangi, kami tidak akan menemukanmu.”

“Maka daripada itu, dia yang melapor tadi memberikan usul untuk menyampaikannya kepada kepala desa agar dapat memintakan bantuan kepada polisi untuk mencarimu. Seperti sekaranglah hasil yang terlihat.”

“Apakah itu tidak berlebihan?” Amin bertanya.

“Kamu selalu bicara seperti itu.”

“Mohon maaf, memang aku tidak menyukai hal-hal yang berlebihan dan aku mengatakannya agar kalian mengatakan yang sewajarnya saja.”

“Daripada berdebat, lebih baik kita jalan saja sesuai permintaan kepala desa barusan.”

Mereka pun berjalan untuk mengelilingi desa, memperhatikan segala keadaan.

“Kenapa lampu di sini padam?” Amin memandang ke sekitar.

“Ah, malam ini memang direncanakan untuk pemadaman listrik.”

“Lihatlah, kamu sendiri mengkhawatirkan orang-orang di sini. Apakah itu berlebihan?”

Amin terdiam. “Aku sangat senang mengenal kalian. Baru malam ini, aku sudah mendapatkan tiga pelajaran yang sangat berharga dan akan aku usahakan untuk terus mengingatnya. Pertama, percayakan dan serahkan saja segala urusan yang memang ada pihak berwenang untuk mengatasinya. Kedua, menghindari perdebatan yang tidak sehat. Ketiga, kekhawatiran kepada orang lain adalah hal yang wajar karena kita tidak mau orang tersebut mengalami hal yang buruk.”

“Aku harap dengan sikapku yang seperti itu, kalian belum mau jera mengenalku dan terus berkomunikasi sebagaimana sekarang.”

“Kita hanyalah manusia.”

“Kesalahan yang telah kita lakukan, apakah pada akhirnya mendekatkan kepada Tuhan?” tanya Amin yang membuat suasana kembali hening.

Komentar