arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

Meski tidak ada dari segi luar yang memicu keinginannya, Mira mulai sering bersantai di taman kota setiap sore jika tidak ada pekerjaan setelah Rian memintanya untuk pertama kali. Memandangi masyarakat yang turut menghabiskan waktu mereka, menatapi langit untuk memandang matahari yang semakin terbenam menjadi lebih indah saat dikelilingi bunga berwarna-warni.

“Sudah kuduga kita akan bertemu di sini.” Mendengar suara itu, Mira yang sempat larut dalam lamunannya menjadi semangat untuk mencari dari arah mana datangnya. Dia menoleh ke sana kemari sebelum menemukan orang yang memanggil.

“Rian?” Rian datang dengan membawa beberapa barang yang lebih sedikit dibandingkan saat dia mengunjungi ke rumah Mira beberapa hari lalu.

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Rian duduk di bangku yang sama dengan Mira, bersebelahan dengan jarak sekitar kurang dari setengah lengan. Dia kemudian menaruh barang yang dia bawa di celah kecil tersebut.

“Berapa lama kita berpisah?” tanya Mira memandang Rian dengan wajah rindu.

“Aku tidak menghitungnya, tapi itu terasa sangat lama.” Perkataan tersebut mengubah suasana dan membuat mereka tertawa sementara Rian membuka barang bawaannya.

Barang pertama yang ditunjukkan oleh Rian adalah roti yang sama dengan Mira pernah beli jauh hari sebelumnya, saat menunggu Rian tetapi belum membuahkan hasil. Pemberian tersebut membuat Mira tersenyum kecil. “Ini dari toko roti yang itu kan?”

“Iya. Menurutku kamu akan suka roti dari sana karena rasanya sangat enak.”

“Hm!” Mira setuju dengan penuh semangat.

Rian menyerahkan satu potong kepada Mira dan mengambil satu potong pula. Dia juga membawakan minuman kecil kalengan dan memberikan salah satunya kepada Mira.

Mereka melahap makanan dan menghabiskan minuman itu untuk menikmati waktu terus melaju sambil memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan depan mereka.

“Mira.” Rian membuka pembicaraan saat mereka sedang fokus kepada makanan.

“Ada apa?” Mira menyahut dengan rasa ketertarikan. Kepalanya agak miring untuk memperhatikan apa yang akan Rian katakan.

“Aku ingin menyatakan maksud dari kedatanganku ke sini. Aku sebenarnya hanya memiliki satu tujuan dan mencoba peruntunganku dengan firasat bahwa kamu akan ada di sini dan ternyata benar saja. Andai kita tidak bertemu di sini pun, aku juga akan ke rumahmu demi menyampaikan satu hal yang kamu harus mendengarnya.”

“Apa itu?” tanya Mira penasaran.

“Aku sebenarnya sudah menyadari bahwa akhir-akhir ini kita sudah saling mendekat satu sama lain.” Mendengarnya membuat Mira tersipu sehingga berusaha menutupi wajahnya dengan tangan. “Aku senang kamu mencoba dekat denganku selama itu, tapi kali ini, bolehkah jika aku memintamu untuk saling berjauhan sementara waktu?”

“Kenapa?” Mira terkejut mendengarnya dengan tangannya yang tidak jadi menutup wajah. “Ini bukan seperti Rian yang selama ini aku kenal.”

“Mohon maaf, Mira. Aku sedang menyelesaikan sebuah kasus dan tidak mau membuatmu terlibat karena sangat membahayakan.”

“Apakah kamu mau memberitahukan kepadaku kasus apa itu?”

“Mohon maaf lagi, Mira. Aku belum bisa memberitahukannya kepadamu untuk kali ini.”

“Tidak apa. Itu adalah hak atau bisa saja kewajibanmu untuk merahasiakannya.”

“Hanya saja, jika itu berbahaya, bukankah lebih baik jika melakukannya secara bersama? Aku mungkin bisa memintakan bantuan dari tempatku bekerja sekarang jika kamu memerlukannya.” Mira memberikan penawaran setelah berpikir sejenak.

“Tidak perlu dan aku tidak menginginkannya. Apapun yang terjadi, aku harus segera menyelesaikannya. Aku telah menyelidiki kasus ini dari lama tinggal selangkah lagi untuk mengakhirinya dan aku mohon kepadamu untuk percaya kepadaku kali ini.” Rian menepuk pundak Mira dengan tangan kirinya. “Biarkan aku menuntaskannya.”

Mira merasa kasihan dengan Rian dan menyentuh lengan kiri atasnya. Hal itu membuat Rian merintih kecil yang membuat refleks Mira untuk menarik tangannya. Rian sementara itu memegang lengan kiri atasnya sebentar. Mira bingung dengan reaksi Rian. “Tidak apa-apa. Lenganku hanya mengalami luka kecil.”

“Apa yang terjadi?” tanya Mira dengan nada memelas karena simpati.

“Ah, ini hanya kecelakaan kecil saat aku bekerja.” Rian berusaha mengkondisikan tangannya agar Mira tidak terlalu mengkhawatirkan atas hal tersebut.

“Apakah kamu sudah–”

“Lapor Pak Kombes?” potong Rian. Mira terdiam dan hanya mengangguk.

“Bapak Riyadi telah mengetahui tentang kejadian ini. Beliau adalah orang yang pertama dari kantor yang mengunjungiku di rumah sakit.” Rian memastikan Mira tidak terlalu khawatir.

Keadaan mulai menjadi canggung sebelum Rian kembali memulai topik baru. “Oh ya, Mira. Bagaimana pekerjaanmu di tempat baru?”

“Aku belum begitu mendapatkan tugas penting. Anggap saja bahwa aku saat ini masih dalam tahap perkenalan dengan rekan-rekan kerja di sana.”

“Mendengarmu berbicara seperti itu, nampaknya mereka bersikap baik denganmu di sana. Baguslah jika demikian. Aku harap mereka akan terus seperti itu sampai akhir masa kerjamu di sana.”

“Sepertinya giliranku untuk memberitahukan keadaan di kantor sampai saat ini.”

“Rekan kerja kita sebelumnya, Dewi dan Wijaya, mereka tetap menjadi dirinya masing-masing. Tidak terlihat perubahan yang begitu besar, malah mereka semakin semangat karena memang kasus yang sempat kita hadapi bersama sebelumnya hampir menemui titik akhir.”

Baru disadari, Mira telah menghabiskan makanan dan minuman yang diberikan Rian. Rian pun mengulurkan tangannya untuk meminta kaleng kosong bekas Mira dan mengumpulkan sampah pada dirinya. Mira menyapu sedikit dari remah-remah roti yang jatuh di pakaiannya.

“Kau tetap makan dengan lahap rupanya. Itu membuatku sangat senang. Ditambah dengan mendengar keadaanmu sekarang di tempat kerja baru, kamu sepertinya telah berdamai dengan keadaan.” Rian mulai berdiri. “Jaga dirimu baik-baik.”

“Kamu langsung ingin pulang sekarang?” tanya Mira heran.

“Ya … sebenarnya dokter dari rumah sakit tempat aku dirawat sebelumnya masih menyuruhku untuk beristirahat dengan cukup setelah diperbolehkan untuk keluar. Jadi, ada baiknya untuk mendengarkan perkataan orang yang memang ahlinya dan aku ingin segera melaksanakan saran tersebut.”

“Kamu juga, jaga diri baik-baik. Semoga luka di lenganmu lekas sembuh dan pulih agar segala aktivitas yang akan kamu lakukan dapat berjalan dengan lancar.”

“Tentang kasus yang kamu bicarakan tadi, aku masih ingin membicarakannya. Apapun yang terjadi nanti, jangan sia-siakan kepercayaanku yang sangat berharga ini kepadamu. Aku ingin informasi yang kudapatkan saat kita bertemu lagi nanti, adalah kasus tersebut terselesaikan dengan baik. Setidaknya, aku tidak mau kamu terluka lagi apalagi mendapatkan hal yang lebih buruk daripada itu.”

Rian hanya tersenyum kecil, kemudian berpaling untuk berjalan pulang.

“Jangan lupakan! Kita harus bertemu lagi setelah ini!”

“Tentu!” jawab Rian sambil menjauh. Dia melambaikan tangan meski punggungnya yang menghadap Mira.

Matahari semakin mengarah ke barat dengan langit yang sudah diwarnai oleh lembayung senja. Rian yang terus berjalan menjadi bayang-bayang. Mira menunduk dan menarik napas dalam-dalam, tidak memahami apa yang baru saja dia rasakan. Dia mulai kembali larut dalam lamunan.

Komentar