arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

“Halo, Bripka Mira.” Tanpa sempat bersedih, Mira dikejutkan dengan suara dari belakangnya yang membuat langsung menoleh. “Lama tidak berjumpa.”

Itu adalah Amin, orang yang dia tahan sebelumnya. Kedatangannya membuat Mira tidak bisa berkata-kata. Amin terus berdiri di sana, dengan menaruh lengan di punggung bangku yang terbuat dari kayu itu. Dia memerlukan waktu lama untuk membiasakan karena rasa panas yang masih terasa sebelum bersantai sepenuhnya.

“Tenanglah. Saya bukan orang mati, kok,” ucap Amin dengan nada bercanda.

“Kamu sudah bebas?” Mira terkejut. “Duduklah di sini.” Mira kemudian memberikan isyarat dengan menepuk bangku, di sisi yang berbeda dibandingkan tempat Rian duduk beberapa saat lalu. “Kamu kepanasan, bukan?”

“Saya cukup di sini saja, terima kasih atas tawarannya. Saya baru saja pulih dari semua ini dan tidak mau lagi mendengar tuduhan macam-macam.”

“Oh ya, saya dengar Anda mendapatkan mutasi. Apakah hal itu benar?” Mira tidak bersuara, enggan untuk menjawab pertanyaan dari Amin.

“Saya yang tidak menduga akan bertemu Anda di sini hanya ingin mengkonfirmasi hal tersebut apalagi sekarang Anda terlihat begitu bebas dan bisa ke mana-mana. Mohon maaf jika itu menyakiti perasaan Anda.”

Mira masih tidak mau bersuara, membuat Amin tersenyum kecil lagi sinis.

“Nampaknya kejujuran dari sosok Bripka Mira adalah hal yang begitu langka untuk muncul. Jika kabar yang kudapatkan tentang mutasi itu ternyata benar, aku ingin tahu kapan hukumannya dimulai mengingat tindakan yang dilakukan.”

“Siapa yang duduk di samping Anda tadi?” tanya Amin mengganti topik pembicaraan. “Sepertinya orang itu sangat penting bagi Anda bahkan menawarkan tempat duduk pun di sisi yang berbeda.”

Amin memandang Mira dengan wajah yang serius, dan berbicara dengan nada yang mulai berubah. “Apakah itu Bripka Rian? Orang yang Anda bisiki saat menangkap saya di malam itu?”

“Sebegitu banggakah Anda dengan sosok Bripka Mira sekarang? Dia yang mengincar seseorang akhirnya telah terwujud dengan begitu baik. Menjadikan hal tersebut sebagai motivasi dan alasan untuk melibatkan diriku ke dalam kasus yang bahkan aku tidak ketahui sama sekali sampai masuk ke dalam penjara.”

“Bu Mira, sudah sangat jelas bahwa kaitan kita hanya dari kasus itu dan tidak akan pernah lebih. Hanya saja, dengan ketiadaan hubungan dengan Anda ini, herannya aku masih dan terus mendengar bahwa Anda dijadikan sebagai contoh baik bagi kepolisian maupun masyarakat. Seorang polisi muda yang dengan usianya tersebut sudah tidak asing lagi terdengar di sini dengan segala pencapaiannya.”

“Sungguh maafkan aku, Amin.” Kesedihan Mira tidak lagi terbendung dan dia menunjukkan air mata yang telah mengalir di wajahnya kepada Amin. Mira berdiri perlahan dari bangku dan mencoba mendekat untuk meminta maaf kepada Amin secara langsung dan Amin menolaknya dengan melangkah mundur untuk menghindar.

Wajah marah Amin mulai terlihat. Mira baru melihat ekspresi dirinya yang seperti itu terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa. Posisi berdiri mereka hanya terhalang bangku taman itu saja.

“Aku terus bertanya, apa yang sebenarnya Anda inginkan? Aku tidak mendapatkan jawabannya selama hidupku hampir saja direnggut dengan keadaan diri mendekam di dalam penjara.”

“Kenaikan pangkat?” Amin bertanya dengan suara yang mulai bergetar.

“Jika Anda tidak memberitahukannya, aku akan terus menebak apa yang Anda inginkan melalui tindakan Anda malam itu. Anda sendiri yang lebih mengetahui motif sesungguhnya untuk membuatku terlibat.”

Hati Bripka Mira bagai tertusuk dengan ucapan Amin. Dia disadarkan kembali dengan tindakan yang telah dilakukan dan seberapa besar dampaknya yang hanya bermula dari niat kecil terbersit di kepala.

Amin menghela napasnya. Kondisinya sekarang mulai tenang. “Memang ini pertemuan kita setelah sekian lama, Bu Mira. Memang Anda telah meminta maaf kepadaku, tetapi kenapa baru sekarang?”

Mira mengusap air matanya dan menahan isak tangis. “Syukurlah, Anda sekarang sadar. Lebih baik daripada tidak sama sekali. Mungkin itu alasan mengapa Anda tidak pernah mengunjungiku selama di rumah tahanan.”

“Apa yang engkau lakukan di malam itu menyalahi hukum serta moral, tapi ketahuilah Bu Mira, aku akan memaafkan Anda. Namun untuk kali ini, aku tidak menggratiskan pemberian maaf dariku. Ada satu syarat yang menjadi pengecualian.”

“Apa itu?” Mira bertanya dengan nada serius.

“Menjadi anggota Satuan Reserse Narkoba adalah sebuah kekuasaan yang kuatnya melebihi orang awam sepertiku. Dengan kuasa yang Anda miliki, aku hanya ingin Anda melakukan tugas Anda dengan sepenuh hati, di mana pun Anda bertugas sekarang.”

“Awasi baik-baik dan tangkap penjahat yang memang memperjualbelikan narkoba, terutama di perbatasan dua kota yang tidak jauh dari taman ini, untuk membalas perbuatan Anda yang terdahulu.”

“Ini adalah cara terbaik bagi Anda untuk kembali dan memperbaiki segalanya. Menggunakan kekuasaan yang Anda punya dengan sebaik-baiknya.”

“Saya memohon izin untuk memberikan saran tentang bagaimana sebaiknya menggunakan kekuasaan tersebut. Selama ditahan, aku ditempatkan satu ruangan dengan orang yang Anda tangkap juga di malam itu. Kami sempat berbicara dan dia sepertinya tidak jera atas apa yang dia lakukan, dan dia siap untuk melakukannya lagi saat bebas.”

“Karenanya, aku ingin Anda untuk sekali lagi menyelidiki kasus-kasus lama. Mereka bisa saja memiliki kaitan yang besar dengan yang Anda hadapi sekarang.”

“Aku dibebaskan lebih dahulu sehingga tidak dapat mengetahui apa yang akan dia lakukan jika bebas nanti. Aku bisa saja lupa saat waktu itu tiba, tapi aku akan tetap berusaha untuk menjaganya.”

“Dari kasus-kasus lama itu, aku harap Anda dapat menemukan semua tautan yang mengarah kepada satu tempat, mungkin dimulai dari rincian perdagangan karena tempat kejadian bisa kembali digunakan. Intinya, aku ingin Anda kembali memeriksa tempat pertama kali kita bertemu, atau setidaknya tetap mengawasinya meski posisi Anda sekarang.”

“Hanya saja, aku takut kasus yang Anda akan hadapi ini lebih besar dari bagaimana kita bertemu pertama kali. Andai Anda menerima saran dari diriku, aku berharap Anda benar-benar siap dengan segala hal yang mungkin Anda akan hadapi, apapun itu dengan segala resikonya yang jelas mengancam Anda.”

“Kurasa itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu. Apa yang akan kulakukan, adalah hal yang sama seperti malam itu. Aku harus pulang menuju rumah karena keluargaku menungguku. Sampai jumpa lain kali, dan itupun jika masih ada kesempatan.”

“Tidak saya duga akan bertemu dengan Anda di sini, padahal tadinya saya hanya berniat untuk bersantai dan tiba saat matahari sudah begitu dekat untuk terbenam.” Amin mengepalkan tangannya seraya pergi dari sana. “Kawal terus sampai tuntas.”

“Dia benar. Kekuasaan yang aku miliki, seharusnya dari dulu aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Karenanya, aku akan mendengarkan sarannya dan menyelidiki kasus ini dengan benar. Aku ingin memperbaiki segalanya.”

Komentar