arrow_back

Hati Yang Terbelah

arrow_forward

“Pak Kombes, bisakah Anda ke tempat kami sebentar? Ada beberapa hal yang harus kami laporkan segera kepada Bapak.”

Kombespol Riyadi mengangguk dan bergegas keluar dari ruangannya untuk menghampiri tim dari Satuan Reserse Narkoba. Beberapa berkas telah disiapkan di atas meja dan papan tulis tempat mereka menunjukkan seberapa besar progres penyelidikan mengalami beberapa perubahan.

Riyadi memandangi papan tulis itu dan menyadari perubahan tersebut. Dia menunjuk foto bangunan yang ditempel di sana sambil membandingkan dengan berkas yang ditaruh di atas meja.

“Itu bangunan yang kalian laporkan sebelumnya, bukan?”

“Betul, Pak. Memang itu bangunannya,” jawab Briptu Dewi.

“Apa yang kalian dapatkan setelah melakukan penggeledahan di sana? Apakah ada tanda-tanda CV. Galanthus ini melakukan kegiatan produksi narkoba di tempat tersebut?”

“Sayangnya, tidak ada, Pak. Hanya barang-barang berdebu dan kursi yang dipenuhi sarang laba-laba. Kami akan mengetahui tentang adanya barang yang digunakan untuk produksi berdasarkan pengalaman sebelumnya, tapi sekali lagi, kami tidak menemukan barang-barang seperti yang pernah kami lihat.”

“Jangan bilang kita menemui jalan buntu lagi, karena aku tidak mau mendengarnya.” Riyadi mulai pasrah dengan informasi yang didapat.

“Beritahukan dugaan sementaramu, Dewi,” ujar Bripda Wijaya.

“Ini hanya sebuah terkaan liar dari saya. Melihat adanya kursi kayu di bangunan itu, aku menduga mereka menggunakan sekolah sebagai tempat kerja mereka setelah mengosongkan isinya.”

Riyadi terlihat tertarik dengan penyampaian mereka barusan. “Mereka tidak berubah begitu banyak rupanya.” Perkataannya malah membuat heran Dewi dan Wijaya.

“Jika aku berpatokan kepada cerita yang dulu aku maksud, mereka lebih parah daripada itu. Karenanya, kita mungkin saja untuk mengakhiri kasus ini dalam waktu dekat, namun segala kebenaran akan terus terungkap jadi aku harap kalian mempersiapkan diri.”

“Mereka yang menjadi atasan di organisasi kejahatan itu, juga memiliki pengaruh besar di sekolah-sekolah. Mereka akan menyelewengkan segalanya dengan kekuasaan mereka dengan sampai keputusan dan segala hal mereka selewengkan.”

“CV. Galanthus ini sudah kalian pastikan legalitasnya bukan?” Pertanyaan Riyadi dijawab dengan anggukan. “Telusuri aliran dana mereka, dan cari jika ada yang mengarah kepada sekolah bahkan kepada yayasan mereka sekalipun. Dugaanmu bisa saja benar, dan siapa tahu kita akan menemukan orang di balik semua ini.”

“Kami telah mendapatkan data yang Bapak Inginkan berupa catatan transaksi tersebut dan kami akan segera memeriksanya,” ucap Wijaya.

“Baguslah jika demikian. Selamat bekerja karena aku harus kembali ke ruanganku sebentar untuk menyelesaikan beberapa hal juga.”

“Siap, Pak!” Riyadi meninggalkan Dewi dan Wijaya. Mereka pun mengambil kursi dan duduk untuk membuka berkas yang mereka bawa sebelumnya. Membalik lembaran kertas secara perlahan satu per satu, memindai tulisan yang ada di sana dengan tujuan untuk menemukan transaksi yang begitu mencurigakan dibandingkan lainnya.

“Kita menemukannya!” seru Dewi sambil mempertahankan telunjuknya di atas kertas. Wijaya pun mengintip dari tempat duduknya apa yang Dewi ingin tunjukkan dan terkejut setelah melihatnya.

Mereka bangga dengan pencapaian mereka dan saling tos. “Kita harus segera menangani kasus ini sebelum semakin membesar.” Wijaya menegaskan.

Mendengar kehebohan tersebut, Riyadi yang baru saja juga menyelesaikan urusannya mendekat ke arah mereka. “Kalian sudah menemukannya?” Dewi kemudian menandai hasil temuannya dan menyerahkan kepada Riyadi. “Bagaimana bisa?”

“Hampir semuanya berasal dari rekening yang sama, kecuali satu transaksi. Beruntungnya, transaksi itu pula yang mengarahkan kita kepada sebuah yayasan sekolah.”

“Kami akan menyerahkan temuan tersebut kepada Tim Cyber untuk menyelidiki siapa pemilik rekening itu. Sementara itu, sebagaimana ranah kami, mendatangi alamat yang tertulis di sana menjadi fokus utama kami sekarang sehingga kami berniat untuk segera mendatanginya.” Riyadi mengangguk untuk menyetujui rencana mereka sehingga Dewi dan Wijaya pun bergegas menuju tempat tersebut.


“Selamat pagi, Pak Kombes Pradana.” Bripka Mira memasuki ruangan Kombes Pradana. Pradana yang sedang dalam waktu luangnya menyambut kedatangan Mira.

“Ada apa, Mira?” tanya Pradana.

“Aku meminta izin kepada Anda untuk kali ini menuntaskan kasus di luar wilayah kita.”

“Menuntaskan kasus?” Pradana bertanya dengan bingung. “Belum ada yang harus kamu kerjakan sekarang, bukan?”

“Aku akan kembali ke sana, ke tempat semua ini bermula. Aku yang memulainya, aku pula yang harus mengakhirinya.”

“Aku memang tidak akan bisa memperbaiki masa lalu yang telah terjadi, tapi aku akan mencoba mencegah perbuatan buruk yang akan terjadi di masa depan.”

Pradana diam untuk berpikir sejenak. “Aku izinkan. Jaga dirimu baik-baik.”


“Tempat apa ini?” Kedatangan Dewi dan Wijaya beserta seluruh tim yang sama dengan penggeledahan bangunan kosong sebelumnya di alamat yang telah mereka dapatkan hanya membuat kebingungan.

“Ini sepertinya bangunan lama dari sekolah yang kita temukan sebelumnya. Dugaanku tempat ini pernah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada waktunya, dan menjadi terbengkalai sekarang setelah ditinggalkan sejak lama.”

“Mereka mungkin menyangka saat membangun bangunan baru, murid akan semakin banyak yang mendaftar sehingga kedua bangunan dapat terpenuhi. Nyatanya tidak, mereka bisa juga memilih bangunan baru karena memang lebih baik.”

“Mengapa mereka menggunakan tempat seperti ini untuk melakukan semuanya?” tanya Dewi.

“Siapa lagi yang mencurigai selain kita?”

Wijaya memimpin penggeledahan dengan memberi isyarat tangan. Mereka membuka ruangan satu per satu namun yang ditemui tidak begitu berbeda dengan yang mereka lihat di dalam bangunan kosong. Masih ada beberapa ruangan yang perlu dibuka, Dewi dan Wijaya berdiri di depan sebuah pintu bekas ruangan kelas.

“Apakah kamu sepertiku? Merasakan firasat yang kuat bahwa ini tempatnya?” Pertanyaan Wijaya dijawab dengan anggukan oleh Dewi dan mereka pun membuka ruangan itu. Benar saja, mereka menemukan barang-barang yang digunakan untuk memproduksi narkoba di dalamnya.


Barang-barang yang mereka temukan telah dibawa ke kantor dan diletakkan di bagian Satuan Reserse Narkoba. Melihat jumlahnya yang terbilang cukup banyak membuat mereka tidak bisa berkata-kata.

“Mau tidak mau, kalian harus memeriksa semua barang ini satu per satu. Mulai dari kemungkinan adanya sidik jari, bahkan kita harus menelusuri dari mana barang ini dibeli dan atas nama siapa yang membelinya.”

Bekerja sama dengan Tim Forensik, Tim Satreskoba pun mulai menyelidiki satu per satu barang yang tiba di tempat mereka. Mereka berhasil menemukan sidik jari, tetapi tidak cukup untuk diuji agar mengetahui siapa pemiliknya sampai mereka menemukan sebuah wadah kecil berisikan kapsul kosong.

Dewi dan Wijaya memandang satu sama lain. Wijaya yang masih mengenakan sarung tangan putih membukakan wadah kecil tersebut, mengambil kertas putih dan menumpah semua kapsul itu di atas kertas.

Tanpa diduga, kapsul-kapsul tersebut memiliki sidik jari padanya. Potongan sidik jari yang menempel pada kapsul disatukan dengan potongan sidik jari yang telah mereka dapatkan sebelumnya.

Menyerahkan sepenuhnya kepada Tim Forensik, Tim Satreskoba hanya perlu menunggu hasilnya. Setelah menunggu cukup lama, hasil pengujian langsung diserahkan oleh Tim Forensik kepada Tim Satreskoba.

Wijaya menyambut kertas laporan tersebut dan memandang isinya. “Wah….”

“Kenapa?” tanya Dewi.

“Aku tidak menyangka dia orangnya.”

Wijaya pun menunjukkan hasil pencarian. Riyadi tersenyum sinis sampai tawa kecil keluar dari bibirnya. “Tangkap dia segera!” perintah Riyadi sambil menunjuk ke luar.

“Siap, Pak!”

Komentar